Situs Watugong merupakan salah satu jejak peninggalan sejarah yang dapat ditemukan di Dusun Plembangrejo, Desa Wonosobo, Kecamatan Srono. Penamaan Watugong berasal dari ditemukannya batu-batu andesit yang menyerupai alat musik gamelan atau lempengan gong. Beberapa sumber mengatakan bahwa situs ini merupakan peninggalan masa Kerajaan Kanjuruhan, di mana batu-batu tersebut berfungsi sebagai pelandas tiang dan asrama keagamaan. Selain itu, menurut penelitian, Watugong diartikan sebagai umpak atau cagak dari bangunan rumah yang besar. Rumah besar yang berdiri di daerah Watugong pada masa lalu diperkirakan berfungsi sebagai hunian keagamaan yang ditempati oleh para brahmana untuk bersemadi, menuntut ilmu, dan melatih olah kanuragan.
Sanggar Seni Jinggosobo merupakan salah satu sanggar yang berlokasi di Dusun Sumberwangi, Desa Wonosobo, Kecamatan Srono. Sanggar ini mulai didirikan pada tanggal 4 April 2004 oleh seniman legendaris yang juga berasal dari Desa Wonosobo, Alek Joko Mulyo. Jinggo Sobo aktif membawakan berbagai macam tarian lokal yang berakar dari tradisi blambangan maupun tarian kreasi baru yang terinspirasi oleh lingkungan sekitar. Sanggar ini rutin menyelenggarakan latihan tari pada hari Kamis dan Minggu. Salah satu jenis tari yang pernah dibawakan oleh sanggar ini adalah Tari Keter Gandrung yang merupakan tarian yang terinspirasi dari unsur keter atau kembang goyang pada omprok gandrung.
Duta Blambangan Ukir menjadi salah satu usaha kerajinan kayu ukir yang telah melegenda di Banyuwangi. Rumah kerajinan ukir ini berlokasi tepatnya di Dusun Krajan Kulon, Desa Wonosobo. Duta Blambangan Ukir pertama kali didirikan pada tahun 1995 oleh Naryo, seniman yang telah banyak menorehkan karya di lingkup nasional maupun internasional. Naryo selaku seniman ukir lebih banyak menggunakan ukiran gaya Jawa dan Bali dalam penciptaan karyanya. Selain itu, motif Gajah Oling khas Blambangan yang sarat dengan unsur flora dan fauna sebagai refleksi kemakmuran dan kesuburan tanahnya juga kerap digunakan dalam kerajinan ukir ini.